Di salah satu bangunan besar di perkampungan Monrest, Leluhur Monrest duduk di atas singgasana batu yang dihiasi dengan ukiran kuno. Penampilannya sederhana—seorang pria tua dengan tubuh kurus dan wajah penuh kerutan—tetapi auranya memancarkan kekuatan luar biasa yang membuat semua orang di sekitarnya menunduk. Dari telapak tangan Leluhur, terlihat bola cahaya yang bersinar tipis dan transparan. Ia sedang mengukur tingkat kemampuannya setelah dibangkitkan. Leluhur merasa kecewa karena kekuatannya saat ini sangat jauh dari kekuatan yang dimilikinya sebelumnya.

Damon, Kepala Suku Monrest, berdiri di sampingnya, menundukkan kepala dengan penuh hormat.

"Leluhur," kata Damon, suaranya gemetar. "Kami telah menunggu kebangkitanmu selama ratusan tahun. Kini kau kembali di antara kami. Kami siap menjalankan perintahmu."

Leluhur Monrest membuka matanya perlahan, memandang Damon dengan tatapan yang menusuk. "Ceritakan padaku," katanya dengan suara yang terdengar tenang tetapi membawa otoritas mutlak, "apa yang terjadi selama aku mati?"

Damon mengangguk, lalu mulai berbicara. "Ketika kau dikalahkan, para musuh yang mengurungmu kehilangan kekuatannya dan kemudian binasa karena usia. Namun, muridmu yang paling setia berhasil mengumpulkan orang-orang yang setia kepadamu dan memberi nama suku Monrest sesuai nama leluhur. Kami berhasil menguasai wilayah ini dan membangun kekuatan di tempat ini dengan nama kampung Monrest. Selama ratusan tahun, kami berusaha membangkitkanmu kembali. Dan akhirnya, melalui ritual pengorbanan, kami berhasil membangkitkanmu."

Leluhur Monrest menyandarkan tubuhnya ke kursi batu, wajahnya menunjukkan ekspresi tenang. "Kekuatanku belum pulih. Saat ini, tingkatanku hanya setara dengan tingkat menengah pembentukan Qi. Tempat ini tidak memiliki Qi yang bisa kuserap untuk mengembalikan kekuatanku. Aku harus mendapatkan kekuatan dan meningkatkannya hingga mencapai tingkatku sebelumnya, Immortal."

Leluhur bangkit dari tempat duduknya, berjalan perlahan keluar bangunan. Para anggota suku Monrest yang berkerumun di luar segera menundukkan kepala mereka dalam-dalam saat Leluhur melangkah keluar.

Di tengah perkampungan, sebuah batu besar berdiameter sekitar lima belas meter, berwarna hitam pekat berdiri kokoh, memancarkan aura misterius. Tidak jauh di dekatnya, sebuah altar terlihat hancur. Altar ini adalah altar yang sebelumnya mengurung jiwa leluhur Monrest. Sedangkan batu meteor ini telah menjadi pusat ritual suku Monrest selama ratusan tahun. Leluhur memandangnya dengan mata penuh minat.

“Kita akan meningkatkan kekuatan kita dengan batu meteor ini?” tanya Leluhur sambil menyentuh permukaan batu itu.

Damon mengangguk. "Ya, Leluhur. Berkat formasi sihir yang diajarkan kepada kami, kami mampu memanfaatkan kekuatan serpihan kecil yang ada di sekitar batu ini untuk bertransformasi menjadi lebih kuat dan cepat."

"Batu meteor ini memiliki kekuatan yang sangat luar biasa. Dengan kekuatannya, kita dapat dengan cepat menembus semua batasan, menjadi Immortal tingkat akhir dan mungkin lebih, jika memang ada tingkatan di atas itu. Setelah meningkatkan semua kekuatan pasukan, kita akan keluar dari tempat ini dengan membawa membawa untuk menguasai dunia," kata Leluhur Monrest sambil meraba batu meteor dan berusaha merasakan energinya.

Leluhur Monrest melanjutkan,"Sayangnya, energi di batu ini tidak bisa dirasakan dan diserap dengan cara biasa. Kita perlu membuat formasi dengan banyak darah pengorbanan untuk dapat menyerap energi dari meteor ini."

Leluhur Monrest tertawa kasar sambil memandangi batu meteor yang menjulang tinggi. "Para kultivator bodoh itu bukannya memanfaatkan kekuatan batu meteor ini, tetapi justru membuang kekuatan mereka untuk menyegel jiwaku. Kini, semua usaha mereka sia-sia. Mereka telah mati, dan tidak ada seorang pun yang bisa menghalangi tujuanku."

Tiba-tiba, Leluhur Monrest menghilang dari pandangan Damon dan muncul di belakang salah satu prajurit yang agak jauh dari mereka. Dalam sekejap, ia kembali ke depan Damon sambil membawa jasad prajurit yang sudah tewas karena patah lehernya. Damon terkejut melihat kekuatan Leluhur dan langsung berlutut sebagai tanda hormat.

"Bagaimana mungkin Leluhur bisa menghilang dan muncul kembali membawa prajurit dengan sangat cepat? Aku harus mendapatkan hatinya agar dia mau mengajarkanku ilmu tersebut," batin Damon.

Leluhur Monrest lalu menusuk dada prajurit itu dengan tangannya hingga banyak darah mengalir keluar, kemudian menggerakkan tangannya seperti melukis di udara.

Damon menyaksikan darah yang keluar dari tubuh prajurit itu terbang dan membentuk gambar berpola mengikuti gerakan tangan Leluhur. Badan prajurit itu menjadi kurus karena kehilangan cairannya.

"Perhatikan! Ini namanya formasi penyerap energi," kata Monrest sambil melanjutkan gerakannya dan mengucapkan kata-kata yang tidak dipahami Damon.

Setelah beberapa saat, sebuah simbol aneh terbentuk. Leluhur Monrest kemudian melemparkan simbol yang melayang di udara tersebut ke arah batu meteor.

Simbol itu terlihat menyala terang, dan sebuah aliran energi mulai keluar dari batu meteor, menuju arah simbol, lalu mengalir ke tubuh Leluhur Monrest.

"Tidak cukup! Darah ini hanya memberi sedikit kekuatan. Aku perlu lebih!" kata Leluhur dengan marah.

"Baik, Leluhur. Aku akan memerintahkan para prajurit untuk menangkap semua penduduk yang ada di pulau ini. Tapi, Leluhur, salah satu penduduk pulau ini memiliki kekuatan yang tidak biasa," kata Damon dengan nada takut menghadapi kemarahan Leluhur Monrest.

"Apa maksudmu? Formasi Kegelapan yang aku ajarkan kepada kalian, apakah tidak cukup untuk mengatasi manusia lemah seperti mereka?" kata Leluhur dengan marah, merasa terhina karena formasi ciptaannya—yang ia berikan dengan mengorbankan kekuatan jiwanya demi mempercepat kebangkitannya—ternyata bisa dikalahkan oleh orang biasa.

"Orang ini mampu bergerak sangat cepat, dan kekuatannya mampu mengalahkan prajurit kita yang bertransformasi dengan formasi. Dia mampu mengeluarkan pukulan sakti yang panas dan menghancurkan tubuh prajurit kita," kata Damon menjelaskan.

"Menarik, sungguh menarik. Bagaimana mungkin ada orang yang bisa memiliki kekuatan tanpa energi Qi di tempat ini? Apakah mungkin dia menggunakan energi batu meteor untuk meningkatkan kekuatannya?" Tanya Leluhur dengan penasaran. "Apakah dia keturunan para kultivator sepertiku?"

"Dia pendatang di dunia ini. Dengan formasi pemanggilan yang kita lakukan sebelumnya, kami mengira mengalami kegagalan. Ternyata, formasi pemanggilan tetap berhasil memanggil mereka ke pulau ini, tapi mereka muncul di bagian lain pulau," jelas Damon dengan nada takut.

"Asal kekuatannya darimana, kami tidak mengetahuinya. Tapi beberapa pimpinan prajurit kita sudah dikalahkannya, termasuk hewan peliharaan mereka," jawab Damon dengan ekspresi cemas.

Leluhur Monrest terdiam sejenak, merenungkan situasi yang ada. Lalu, ia memberikan perintah, "Bawakan aku bahan untuk menggambar formasi."

Segera, salah satu prajurit mengambilkan selembar kain dari kulit hewan dan alat tulis dari bulu hewan. Namun, Leluhur hanya mengambil lembaran kain dan mengulurkan tangan ke arah prajurit yang membawakan kain. Dalam sekejap, tubuh prajurit tersebut tertarik ke depan seolah ada tali yang menariknya, lehernya langsung berada di tangan Leluhur. Tubuh prajurit itu terkulai lemas saat Leluhur menusukkan jari tangannya ke tubuhnya dan membunuhnya.

"Leluhur... ini?" Damon bertanya dengan wajah yang terlihat tidak puas karena sudah dua prajuritnya terbunuh oleh Leluhur mereka.

"Ini karena kebodohan kalian. Tanpa korban, bagaimana kekuatan yang ada bisa kita dapatkan? Segera tangkap mereka sebelum aku membunuh kalian semua," kata Leluhur dengan marah dan nada mengancam. Dia lalu membalikkan badan dan mengulangi melakukan formasi yang sama.

Setelah energi batu meteor masuk ke tubuhnya, Leluhur menuliskan sebuah simbol formasi dan memberi kekuatan pada kertas tersebut agar bisa digunakan oleh Damon. "Gunakan ini untuk menghadapi orang tersebut. Pastikan kalian membawakanku orang-orang yang dapat dikorbankan, atau kalian yang menjadi tumbal untuk batu meteor ini," kata Leluhur dengan tegas.

Damon segera memanggil salah satu pimpinan prajurit, Rayden. Awalnya, Damon ingin meminta Ruvan yang mengetahui keadaan di barat untuk menyerang, namun melihat kondisinya yang terluka, Damon memerintahkan agar Ruvan beristirahat. "Rayden, kau yang akan memimpin serangan ini. Pastikan kita tidak mengulang kesalahan yang sama," perintah Damon dengan tegas.

Rayden menerima kertas dari kulit tersebut, lalu menyimpannya dengan baik sebelum pergi ke barat, membawa seribu pasukan Monrest dan beberapa makhluk mutasi. "Aku tidak boleh gagal. Leluhur sangat kuat dan kejam. Dia bahkan tidak ragu membunuh anggotanya sendiri untuk dikorbankan," batinnya.


